Kamis, 12 Juli 2012

Sudah Kubilang, Ini Indah

Aku suka sekali puisi.
Lebih ringkas dari karya sastra lainnya, juga karena tercipta aha moment usai menafsirnya

Puisi yang baru selesai kubaca, milik Andrea Hirata. Indah tentu saja, terlebih itu soal kopi.
Di novel dwilogi keduanya, Cinta di Dalam Gelas, tak kusangka Andrea bicara banyak tentang kopi.
Jauh lebih banyak dari Filosofi Kopi Ibu Suri Dee ;)
Tapi gara-gara mereka berdua, kuakui, aku tahu mengapa aku mencintai kopi.

Di bawah  ini adalah puisi pertama yang membuatku jatuh hati,


Peluk

Disebabkan karena kau terlalu malu
Dengan penuh gengsi kau berbalik
                dia pun berlalu
Rasakan itu olehmu, sekarang baru kau tahu
Bahwa semua keindahan di dunia ini
                berkelebat dengan cepat
dan hukum-hukum Tuhan ditulis
                sebelum telepon dibuat
Orang-orang indah yang kau temui  pasar,
                stasiun, terminal, dan tikungan
Kekasih, kemewahan mutiara raja brana,
                kemilau galena dan intan berlian
Semuanya akan meninggalkanmu
Kecuali secangkir kopi
Dia ada di situ, tetap di situ, hangat,
                dan selalu dapat dipeluk






Puisi kedua yang membuatku bergumam, "damn, it's true"

Seribu Lima Ratus Perak

Kutengok di televisi
Kebenaran di Jakarta mahal sekali
Para koruptor pintar sembunyi
Padahal nyata-nyata, mereka telah mencuri
Kawan, di kampung kami
Kebenaran harganya hanya seribu lima ratus perak
Warnanya hitam, tergenang di dalam gelas,
            saban pagi

....karena segelas kopi baiknya memang seharga seribu lima ratus rupiah saja.

Dan puisi terakhir, kali ini tentang cinta, yang lagi-lagi aku harus mengatakan iya.

Tak Tergenggam

Cinta, ditaburkan dari langit
Pria dan wanita mengadahkan tangan
Berebut-rebut menangkapnya
Banyak yang mendapat seangkam
Banyak yang mendapat segantang
Semakin banyak
Semakin tak tertenggam


Sudah kubilang, puisi-puisi ini indah kan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut