Lebih ringkas dari karya sastra lainnya, juga karena tercipta aha moment usai menafsirnya
Puisi yang baru selesai kubaca, milik Andrea Hirata. Indah tentu saja, terlebih itu soal kopi.
Di novel dwilogi keduanya, Cinta di Dalam Gelas, tak kusangka Andrea bicara banyak tentang kopi.
Jauh lebih banyak dari Filosofi Kopi Ibu Suri Dee ;)
Tapi gara-gara mereka berdua, kuakui, aku tahu mengapa aku mencintai kopi.
Di bawah ini adalah puisi pertama yang membuatku jatuh hati,
Peluk
Disebabkan karena kau
terlalu malu
Dengan penuh gengsi kau
berbalik
dia pun berlalu
Rasakan itu olehmu,
sekarang baru kau tahu
Bahwa semua keindahan di
dunia ini
berkelebat dengan cepat
dan hukum-hukum Tuhan
ditulis
sebelum telepon dibuat
Orang-orang indah yang
kau temui pasar,
stasiun, terminal, dan tikungan
Kekasih, kemewahan mutiara
raja brana,
kemilau galena dan intan berlian
Semuanya akan
meninggalkanmu
Kecuali secangkir kopi
Dia ada di situ, tetap di
situ, hangat,
dan selalu dapat dipeluk
Puisi kedua yang membuatku bergumam, "damn, it's true"
Seribu Lima Ratus Perak
Kutengok di televisi
Kebenaran di Jakarta
mahal sekali
Para koruptor pintar sembunyi
Padahal nyata-nyata,
mereka telah mencuri
Kawan, di kampung kami
Kebenaran harganya hanya
seribu lima ratus perak
Warnanya hitam, tergenang
di dalam gelas,
saban pagi
....karena segelas kopi baiknya memang seharga seribu lima ratus rupiah saja.
Dan puisi terakhir, kali ini tentang cinta, yang lagi-lagi aku harus mengatakan iya.
Tak Tergenggam
Cinta, ditaburkan dari
langit
Pria dan wanita
mengadahkan tangan
Berebut-rebut
menangkapnya
Banyak yang mendapat
seangkam
Banyak yang mendapat
segantang
Semakin banyak
Semakin tak tertenggam
Sudah kubilang, puisi-puisi ini indah kan?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar